Langsung ke konten utama

Debat Satu Arah

"Keluarlah dari Zona Nyaman". Sepenggal kalimat yang tidak asing bagi kaum remaja, amat tenar di beberapa tahun belakangan. Kalimat favorit si remaja pencari jati diri, bahkan telinga pun kagum padanya.

Namun realita tak seindah lantunan. Kali ini hati tak sependapat dengan telinga. Nyaman merupakan hal mutlak baginya. Hati hanya paham rasa, telinga hanya paham suara, debat dua bahasa takkan ada makna.

Alhasil, akal yang realistis ikut duduk di meja bundar. Kepintarannya sangat diandalkan dalam menentukan mana yang benar mana yang salah. Namun tujuannya kali ini bukanlah soal benar atau salah. Sebab dia malu, jika melawan hati, maka reuni dengan sesal yang akan terjadi. Akal hanya bisa mendengarkan dan memutuskan.

Pertama, zona nyaman adalah tempat idealku. Kalau begitu, kapan kita akan maju jika terus-terusan diam di satu zona? Heyy, bahkan terus-terusan diam ditempat yang sama sungguh membuatku tak nyaman. Kau hanya perlu mencarikanku zona nyaman yang baru, tanpa perlu masuk ke zona yang tak nyaman bagiku. Kurasa kau paham tanpa harus lagi kujelaskan.

Kedua, aku tak suka keluar dari zona nyaman. Dengar baik-baik, tak suka bukan berarti tak bisa. Semua keputusan ada di tanganmu. Tapi ingat, ada konsekuensi saat tak menghiraukanku.

Ketiga, aku rapuh dan punya batas. Jika tetap memilih untuk keluar dari zona nyaman, maka waktu akan mengantarkan sampai di titik batasku. Konsekuensinya tak selalu buruk, baik juga bisa.

Baiknya, aku jadi berbalik rasa. Zona yang awalnya tak ku suka bisa berubah jadi zona nyaman yang baru untukku, dan yaa.. saat itulah kau jadi pemenang sejati.

Buruknya, aku akan meradang, aku sungguh tak bisa dengan hal ini, batas rapuhku sudah habis. Aku sangat berharap kamu menyudahinya. Namun jika kau tetap memaksa, itu urusanmu. Aku tak sejahat dirimu, biarkan ku menolongmu. Kopimu yang pahit tak perlu lagi kau beri gula, biar aku yang menjadikannya manis. Perutmu yang kosong tak perlu lagi kau isi, biar kujadikan kenyang selalu. Otakmu yang pengangguran biar kuberi pekerjaan. Dan tenang, mengenai malammu yang singkat, akan kujadikan lebih panjang.

Terakhir, jangan paksa aku. Jangan siksa aku agar kau dianggap keninian atau keren di mata orang lain, karena sungguh, itu tak keren sama sekali. Jika kamu saja tak mencintai diri sendiri bagaimana mau dicintai orang lain.

Hidup adalah pilihan, dan memilih bukan tugasku. Semua sudah ku lontarkan, sekarang giliranmu untuk memutuskan...


Tidak keluar dari zona nyaman bukan berarti hanya diam di tempat, namun berhenti mengeksplor hal baru itulah mati di tempat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ironi

Lini masa tak pernah sepi dengan potret dirimu. Senyummu sangat lebar disana. Kau bahagia seharusnya aku juga, tapi kenapa? Aku yakin karna dia itu, dia yang tak kukenal, dia yang tiba-tiba saja muncul, dia yang tak pernah absen menemani potret senyummu. Aku ingin kau bahagia, tapi kuharap dia menyakitimu . -a.f.

Terima Kasih

Ingin rasanya bertemu lagi Bukan untuk membahas hati Tapi.. Untuk mengucapkan terima kasih Karna dulu telah kau curangi Hingga kini.. Yang kau tinggali Menemukan yang sejati Sekali lagi, terima kasih, ya. -a.f.